Jumat, 23 Maret 2018

Bahaya Operasi Filler dan Tanam Benang, Akibatkan Kematian

Bahaya Operasi Filler dan Tanam Benang, Akibatkan Kematian

Tren kecantikan terus berkembang, dan semakin banyak anggota masyarakat yang melakukan beragam operasi untuk mendapatkan hasil optimal.

Salah satunya praktik estetika yang banyak dikenal orang adalah operasi filler dan tanam benang (threadlift).

Namun, saat ini masih banyak ditemukan penggunaan filler dan benang yang tidak tepat. Sehingga akhirnya, alih-alih menjadi cantik, yang didapat justru dampak buruk.

Operasi semacam itu lazim dilakukan untuk bagian tubuh seperti hidung, dagu, pipi, bahkan payudara dan organ intim.

Dokter spesialis bedah plastik sekaligus Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (Perapi), Irena Sakura Rini pun memberikan pandangannya.

Dia mengatakan, filler, botox, maupun tanam benang sebetulnya adalah terapi yang tidak berbahaya.

Namun, yang menjadikan terapi itu berbahaya adalah saat dilakukan di tempat yang tidak seharusnya, dan dengan prosedur yang tidak tepat.

Risiko terburuknya adalah bisa menyebabkan kematian. Misalnya pada saat suntik filler payudara.

"Sangat berbahaya karena (filler) bisa masuk ke pembuluh darah besar saat tindakan penyuntikan yang berakibatkan serangan sesak mendadak."

"Ini akibat sumbatan pembuluh darah pada jantung dan paru yang bisa mengakibatkan kematian," ujar Sakura dalam paparan Perapi di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (10/3/2018).

Di samping itu, filler yang masuk ke sela kelenjar payudara pada akhirnya berpotensi menyulitkan pemeriksaan apabila tumbuh kanker payudara.

Sementara untuk bagian lainnya, -seperti hidung, pun tak berisiko lebih ringan.

Dia mengatakan, sepanjang garis senyum hingga pangkal hidung terdapat banyak pembuluh darah.

Nah, jika pengerjaan dilakukan oleh seseorang yang kurang memahami anatomidan dan tidak sesuai, maka bisa menimbulkan kesalahan fatal.

Dalam beberapa kasus, filler juga dilakukan bukan dengan bahan Hyalluronic Acid namun dengan bahan lain yang kurang tepat.

Pembuluh darah di hidung yang seharusnya berfungsi menghidupi kulit kemudian menjadi tertutup dan kulit akan menjadi mati. Kondisi ini terjadi karena ada tarik-menarik, dan jaringan di hidung sudah "rompal".

Bisa pula bentuk hidung menjadi aneh seperti singa, karena lekuk tulang hidung yang hilang.

Jika sudah demikian, para ahli bedah plastik seringkali harus melakukan operasi beberapa kali. Itu pun belum tentu hidung bisa kembali seperti posisi semula.

"Mungkin kondisi ini justru akan merugikan pasien, karena cekung (dari hasil filler yang gagal) akan meninggalkan cacat," tutur dia.

Sakura juga mencontohkan salah satu pasien yang pipinya menjadi berlubang karena prosedur penanaman benang yang salah.

Kulit pipi pasien tersebut pada akhirnya tak bisa bernafas karena tersumbat sekitar 50-70 benang.

Bedah yang semula sederhana lalu beruabah menjadi operasi besar. 

Para ahli bedah plastik harus terlebih dahulu mengambil kulit dari bagian lain untuk menambal bagian lubang tersebut, sambil menunggu infeksinya hilang.

Benang tersebut juga tidak mudah dilepaskan dari kulit, dan dipenuhi nanah.

Menurut dia, kondisi semacam ini salah satunya bisa disebabkan karena pengerjaan yang tidak steril.

"Kami tidak melarang dan tidak mengharuskan ke mana," cetusnya.

"Tapi kami ingin masyarakat lebih cerdas dan bertanya pada para ahli dermatologis, ahli bedah plastik, sebelum melakukan (operasi)," ucap dia lagi.

Dokter spesialis bedah plastik lainnya, Teuku Adifitrian yang lebih dikenal dengan sapaan Tompi pun memberikan kesaksi senada.

Tompi mengatakan, masing-masing ahli bedah anggota Perapi  dalam sebulan bisa menangani sekitar 15-20 pasien, yang mengalami masalah akibat praktik bedah estetika yang salah.

Diyakini, -jika memperhatikan tren yang berkembang, maka angka itu bisa terus meningkat pada hari-hari mendatang.

Bahan yang biasa digunakan sebagai filler adalah Hyaluronic Acid. Secara materi, kata Tompi, bahan tersebut aman. Hanya saja sering ada penempatan yang keliru.

"Kalau pakainya sesuai indikasi bagus-bagus saja, kok. Asal tidak berlebihan," kata Tompi.

"Patokan standar operasional prosedur saya adalah, filler tidak akan pernah saya gunakan untuk menaikkan hidung," tegas Tompi.  

0 komentar:

Posting Komentar