Minggu, 18 Maret 2018

Penjelasan Bagaimana Otak Menafsirkan Ilusi Optik

Penjelasan Bagaimana Otak Menafsirkan Ilusi Optik

Apa yang ada di dalam pikiran Anda saat melihat gambar ilusi optik di atas? Bebek atau kelinci?

Ilusi optik memang memperlihatkan gambar yang ambigu.

Ilusi optik ini pertama kali muncul pada 1892 di sebuah majalah humor Jerman. Setelah filsuf Ludwig Wittgenstein menggunakannya untuk melihat dua cara pandang berbeda, gambar ini makin jadi populer.

Anda bisa menafsirkan gambar di atas itu sebagai bebek atau kelinci, tapi tidak bisa menyebut kedua hewan secara bersamaan.

Gambar ini disebut lebih sulit dilihat jika ada dua salinan gambar berdampingan. Bukan tak mungkin Anda akan menyebut kalau ada dua bebek atau dua kelinci.

Terkait ilusi optik, Kyle Mathewson, seorang neuroscientist dari Universitas Alberta, Kanada, berkata bahwa dua dari empat orang tidak dapat melihat adanya seekor kelinci atau bebek pada pandangan pertama.

Untuk membayangkan salah satu hewan, ia berkata seseorang harus memberi informasi lebih banyak kepada  otak untuk bekerja. Misalnya dengan mengatakan kepada diri sendiri untuk membayangkan seekor bebek makan kelinci.

Menurut studi baru Mathewson, ketika harus menggunakan dua cara berbeda untuk melihat gambar yang sama, konteks sangat penting.

" Otak Anda memilah dan bisa melihat gambar besar ketika gambar dimasukkan ke dalam konteks," ujar Mathewson dalam sebuah pernyataan, dilansir Live Science, Selasa (13/3/2018).

Sintaks atau konsep yang mengatur struktur kalimat juga berperan dalam hal ini.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Perception, Senin (5/2/2018), menemukan bahwa ungkapan sederhana kepada otak seperti bayangkan ada bebek di samping kelinci, tak akan memberi efek yang sama.

Ini karena kalimat tidak dapat memberi tahu otak, mana yang bebek dan mana kelinci.

"Kami menemukan bahwa seseorang harus bisa menemukan cara untuk bisa menghapus ketidakpastian agar otak dapat membedakan dua alternatif gambar," imbuh Mathewson.

Mathewson berkata studi ini mempermudah otak untuk menafsirkan informasi hanya dari beberapa isyarat teks atau visual.

"Kita semua harus memerhatikan hal itu, misalnya saat sedang membaca berita, agar dapat menafsirkan dan memahami informasi seperti yang dilihat," tutupnya.

0 komentar:

Posting Komentar